Kamis, 20 November 2014

ALAM RUH



Alam Segala Ruh


       KETIKA itu alam semesta ini belum ada. Belum ada ruang dan waktu. Matahari dan bulan belum beredar, karena keduanya belum diciptakan. Padahal peredaran keduanya menjadi dasar perhitungan waktu. Tak ada detik, belum ada menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, apalagi abad.
          Jauh sebelum itu, telah ada Zat yang Wajib Ada, Zat yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Ia adalah Zat Allah Yang Maha Pencipta, Sang Khalik. Sang Pencipta alam semesta ini.
          Penciptaan yang tidak membutuhkan apapun. Peralatan, bahan atau tenaga. Cukuplah dengan kalimat “Kun!” maka jadilah.
          DIA-lah, Pencipta yang tidak membutuhkan apapun dari hasil ciptaan-Nya. Sang Khalik yang tidak berhajad dari kehidupan yang zaty serta qadim. Tak pernah lupa, jenuh, lalai, lelah apalagi tidur. Allah menciptakan alam semesta dan seisinya ini karena akan menciptakan makhluk yang dinamakan jin dan manusia. Agar mereka beribadah kepada-Nya.
          Allah SWT pertama menciptakan Sumber Segala Ruh” (Ruuhul Azhum dari Nur-Ahadiyah-Nya), yaitu Ruh Nabi Muhammad SAW. Dari Ruuhul Azhum tersebut diciptakan ruh para Nabi, kemudian ruh para Wali, kemudian ruh para manusia. Kemudian ruh para malaikat, ruh bangsa jin, ruh bangsa hewan dan ruh tumbuhan.
          Selain itu, Allah menjadikan pula empat anasir (unsur), yaitu air, api, angin, dan tanah. Melalui keempat unsur itulah Allah menjadikan makhluk di langit dan di bumi, malaikat dan jin, manusia, hewan, tumbuh, pepohonan dan lain-lain.

Pohon Raksasa
          POHON?, Ya pohon!. Pada riwayat yang lain, Allah menciptakan sebuah “Pohon Raksasa”. Tak ada yang mampu memperkirakan seperti apa wujudnya? Bagaimana besarnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Pohon itu dinamakan “Sajaratul Yaqiin” atau “Sajaratul Muttaqqin” ada juga yang menamakan “Sijratul Muntaha”. Kemudian Allah menciptakan Nur-Muhammad itu, seperti rupa “burung merak”. Lalu dimasukkan ke dalam “sangkar mutiara”, yang digantungkan dipohon raksasa tersebut sambil bertasbih memuji Allah selama 70.000 tahun.
          Di dekat sangkar tersebut diletakkan sebuah cermin yang bernama “Haya”. Ketika melihat bayangannya pada cermin, munculah rasa malu sampai mengeluarkan keringat disekujur tubuh. Atas kodrat Ilahi, maka tiap-tiap butir keringat itu menjadi ruh umat manusia. Kemudian Allah perintahkan lima kali sujud. Lalu berubahlah rupa merak tersebut menjadi wujud manusia yang rupawan sekali, berdiri seperti orang sedang shalat dalam keranda mutiara. Kemudian Allah perintahkan kepada seluruh ruh-ruh tersebut untuk tawaf mengelilingi “Lembaga Muhammad”, sambil mengucap tasbih dan tahmid ke khadirat Allah selama seratus ribu tahun.
          Allah memandang “Nur Muhammad”, berkeringatlah sekujur tubuh Nur tersebut.  Lalu, dari keringat hidungnya, Allah menciptakan sekalian malaikat; dari keringat mukanya, Allah jadikan ‘Arsy, Lauhil-Mahfuzh, Qolam dan lain-lain; dari keringat dadanya, Allah menjadikan Nabi-nabi dan Rasul, Ulama; dari keringat belakangnya, Allah menjadikan Baitul Makmur, Baitullah, Baitul Muqaddas dan tempat-tempat ibadah di seluruh dunia; dari keringat alisnya, Allah jadikan ruh-ruh umat Muhammad laki-laki dan perempuan; dari keringat telinganya, Allah menjadikan ruh-ruh umat Yahudi dan Nashara serta orang-orang sesat di jalan Allah; dari keringat kakinya, Allah menjadikan isi alam semesta, alam dunia. 
          Kemudian Allah berkata kepada Nur tersebut: “Coba lihat mukamu!”. Ia memandang ke depan, dilihat ada sesuatu berupa Nur, demikian pula ketika Ia memandang ke bekalang ada sesuatu berupa Nur. Ia memandang ke kanan dan ke kiri, dilihatnya ada sesuatu berupa Nur pula. Itulah Nur-nur para sahabat;
Abu Bakr As-Shiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Nur Muhammad lalu bertasbih ke khadirat Allah SWT selama kurun waktu 70.000 tahun. Allah jadikan dari Nur Muhammad tersebut, Nur sekalian para nabi-nabi. Kemudian Allah jadikan ruh umat Muhammad dari Nur Muhammad, dan ruh umat para nabi dari Nur nabinya masing-masing. Ruh-ruh umat Nabi Muhammad mengucapkan kalimat tauhid “ La ilah ha ilallah Muhammadurrasulullah- Tiada Tuhan kecuali Allah, Nabi Muhammad utusan Allah” [1]  [ALAM TERSEMBUNYI]


[1] (disarikan dari Asal Mula Kejadian Alam, Musannif Efendie, Ustadz, Berita Alam Gaib sebelum dan Sesudah Hari Kemudian, 1979:6-9

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda