ALAM RUH
Alam Segala
Ruh
KETIKA itu alam semesta ini belum ada. Belum ada ruang dan waktu. Matahari
dan bulan belum beredar, karena keduanya belum diciptakan. Padahal peredaran
keduanya menjadi dasar perhitungan waktu. Tak ada detik, belum ada menit, jam, hari,
minggu, bulan dan tahun, apalagi abad.
Jauh sebelum itu, telah ada Zat yang
Wajib Ada, Zat yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Ia adalah Zat Allah
Yang Maha Pencipta, Sang Khalik. Sang Pencipta alam semesta ini.
Penciptaan yang tidak membutuhkan
apapun. Peralatan, bahan atau tenaga. Cukuplah dengan kalimat “Kun!” maka jadilah.
DIA-lah,
Pencipta yang tidak membutuhkan apapun dari hasil ciptaan-Nya. Sang Khalik yang
tidak berhajad dari kehidupan yang zaty serta qadim. Tak pernah lupa, jenuh,
lalai, lelah apalagi tidur. Allah menciptakan alam semesta dan seisinya ini
karena akan menciptakan makhluk yang dinamakan jin dan manusia. Agar mereka
beribadah kepada-Nya.
Allah
SWT pertama menciptakan “Sumber Segala Ruh” (Ruuhul Azhum dari Nur-Ahadiyah-Nya),
yaitu Ruh Nabi Muhammad SAW. Dari Ruuhul Azhum tersebut diciptakan ruh para
Nabi, kemudian ruh para Wali, kemudian ruh para manusia. Kemudian ruh para
malaikat, ruh bangsa jin, ruh bangsa hewan dan ruh tumbuhan.
Selain
itu, Allah menjadikan pula empat anasir (unsur), yaitu air, api, angin, dan
tanah. Melalui keempat unsur itulah Allah menjadikan
makhluk di langit dan di bumi, malaikat dan jin, manusia, hewan, tumbuh, pepohonan dan lain-lain.
Pohon Raksasa
POHON?, Ya pohon!. Pada riwayat yang lain, Allah menciptakan
sebuah “Pohon Raksasa”. Tak ada yang
mampu memperkirakan seperti apa wujudnya? Bagaimana besarnya? Hanya Allah yang
Maha Tahu. Pohon itu dinamakan “Sajaratul
Yaqiin” atau “Sajaratul Muttaqqin”
ada juga yang menamakan “Sijratul Muntaha”.
Kemudian Allah menciptakan Nur-Muhammad itu, seperti rupa “burung merak”. Lalu
dimasukkan ke dalam “sangkar mutiara”, yang digantungkan dipohon raksasa
tersebut sambil bertasbih memuji Allah selama 70.000 tahun.
Di dekat sangkar tersebut diletakkan
sebuah cermin yang bernama “Haya”. Ketika
melihat bayangannya pada cermin, munculah rasa malu sampai mengeluarkan
keringat disekujur tubuh. Atas kodrat Ilahi, maka tiap-tiap butir keringat itu
menjadi ruh umat manusia. Kemudian Allah perintahkan lima kali sujud. Lalu
berubahlah rupa merak tersebut menjadi wujud manusia yang rupawan sekali,
berdiri seperti orang sedang shalat dalam keranda mutiara. Kemudian Allah
perintahkan kepada seluruh ruh-ruh tersebut untuk tawaf mengelilingi “Lembaga
Muhammad”, sambil mengucap tasbih dan tahmid ke khadirat Allah selama seratus
ribu tahun.
Allah
memandang “Nur
Muhammad”, berkeringatlah sekujur tubuh Nur tersebut. Lalu, dari keringat hidungnya, Allah menciptakan sekalian malaikat; dari keringat mukanya, Allah jadikan ‘Arsy, Lauhil-Mahfuzh, Qolam dan
lain-lain; dari keringat dadanya, Allah
menjadikan Nabi-nabi dan Rasul, Ulama; dari keringat belakangnya, Allah menjadikan Baitul Makmur, Baitullah, Baitul Muqaddas dan tempat-tempat
ibadah di seluruh dunia; dari keringat alisnya, Allah jadikan ruh-ruh umat Muhammad laki-laki dan perempuan; dari keringat telinganya, Allah menjadikan ruh-ruh umat Yahudi dan Nashara
serta orang-orang sesat di jalan Allah; dari keringat kakinya, Allah menjadikan isi alam semesta, alam dunia.
Kemudian
Allah berkata kepada Nur tersebut: “Coba lihat mukamu!”. Ia memandang ke depan,
dilihat ada sesuatu berupa Nur, demikian pula ketika Ia memandang ke bekalang
ada sesuatu berupa Nur. Ia memandang ke kanan dan ke kiri, dilihatnya ada
sesuatu berupa Nur pula. Itulah Nur-nur para sahabat;
Abu Bakr
As-Shiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Nur Muhammad lalu
bertasbih ke khadirat Allah SWT selama kurun waktu 70.000 tahun. Allah jadikan
dari Nur Muhammad tersebut, Nur sekalian para nabi-nabi. Kemudian Allah jadikan
ruh umat Muhammad dari Nur Muhammad, dan ruh umat para nabi dari Nur nabinya
masing-masing. Ruh-ruh umat Nabi Muhammad mengucapkan kalimat tauhid “ La ilah
ha ilallah Muhammadurrasulullah- Tiada Tuhan kecuali Allah, Nabi Muhammad
utusan Allah” [1] [ALAM TERSEMBUNYI]
[1]
(disarikan dari Asal Mula Kejadian Alam,
Musannif Efendie, Ustadz, Berita Alam
Gaib sebelum dan Sesudah Hari Kemudian, 1979:6-9
Label: MENGINTIP ALAM TERSEMBUNYI

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda